Minggu lalu saya ikut retreat pemuda yang diadakan oleh Komisi Pemuda GII (Gereja Injili Indonesia) Hok Im Tong. Retreat pertama yang saya ikuti sejak retreat terakhir waktu kelas 2 SMP dulu. Hehehe… That was 13 years ago!

Tema retreat yang tidak biasalah yang sebenarnya jadi penarik hati saya untuk mengikuti retreat ini (selain bujukan maut dari temen baikku Nova hehe…). Entah kenapa Komisi Pemuda GII mengambil “Loneliness” sebagai tema retreat. I mean, that was so hip! J Biasanya kan retreat2 itu membahas hal2 yang lebih spiritual dan alkitabiah, misalnya Melayani, Memenangkan Jiwa, Kenapa Dia Disebut Juruselamat, dll. Not that I wouldn’t be attracted if those were the themes of retreat (bela diri dot com).

Tapi kali ini Komisi Pemuda GII yang emang hip banget itu bisa melihat kalau yang dibutuhkan pemuda2 sekarang adalah retreat yang lebih ke arah self-help, tapi dengan basis Alkitab yang kuat.

Loneliness… Hmmm… Nggak mungkin ada orang yang nggak pernah merasakan kesepian. Baik kesepian yang sifatnya temporary, misalnya hanya dirasakan saat2 tertentu, atau kesepian yang sifatnya continuous dan bisa jadi laten (apa pula laten ini). Kalau diambil dari pengalaman pribadi, saya dulu sering mengalami kesepian. Walaupun masih yang sifatnya temporary (sekali2 muncul), tapi memang sedih sekali rasanya ketika kita down, merasa terkucilkan juga dari lingkungan sekitar. Kesepian yang paling parah yang pernah saya rasakan adalah ketika masa2 SMA. Agak2 mengherankan, kalau Anda tau masa SMA saya.

Saya mengalami masa SMA dengan hidup di asrama bersama 39 orang lain yang sekelas dengan saya. Ditempatkan di sebuah kamar dengan 3 orang siswi yang lain. Harusnya tidak akan kesepian karena setiap hari, setiap jam, setiap menit, selalu ada saja teman yang bisa saya lihat, bisa saya sentuh, bisa saya ajak bicara. Tapi tidak demikian kenyataannya, saudara-saudara. SMA saya yang unggul itu membangkitkan suasana persaingan yang amat sangat intens, sampai rasanya bisa tercium di udara. Susah sekali RASANYA untuk menemukan teman baik (ketika itu) yang benar2 menyayangi kita dan tulus membantu kita. Tapi sekali lagi, itu waktu itu ya. Persaingan intens yang membuat kita seperti itu. Dan tentu saja karena usia muda belia, we didn’t know better back then. Walaupun demikian juga, situasi waktu itu tetap membawa dampak positif yang masih bisa saya rasakan sampai sekarang.

Trus waktu itu bagaimana cara saya memberantas rasa kesepian? Menulis diary. Ini yang terutama. Trus tetap percaya kalau pasti ada minimal satu orang dari 39 orang yang mau jadi sahabat saya dengan tulus. Dan ternyata benar. Di kelas 3 saya menyadari kalau saya punya bukan hanya satu, dua, tiga orang sahabat baik, tapi 39 orang! They are not only my best friends, they are my brothers and sisters.

Nah, waktu saya kuliah, kesepian yang saya rasakan muncul kalau saya merasa terlalu bodoh untuk mengikuti pelajaran di kampus. Atau ketika setelah belajar mati2an, tetap saja gagal ujian. Ini rasanya depresi, stress, dan kesepian bercampur dari satu. Hehe.. Agak aneh sih kalau ada orang yang kesepian ketika merasa gagal dalam pelajarannya. (Itu bukan kesepian kali Stel, itu sih kebodohan! J). Tapi benar lho, entah kenapa kalau rasanya gagal waktu kuliah dulu bukan sedih yang saya rasakan, tapi sepi… sunyi… sepi… Sampe waktu itu saya pernah pengen lompat dari kamar kos2an yang ada di lantai 2 (kidding bo!).

Bagaimana cara saya mengatasi kesepian waktu itu? Ngadu sama Klemens! Ini cowok sahabat terbaik saya dari kecik sampai sekarang. SD-SMP-SMA-Universitas sama terusss!!! Kos-kosannya juga cuma 200 meter dari kos saya. Kalau udah begini, Klemens pasrah aja denger saya bercuap-cuap, ciap-ciap, kaok-kaok sampai 3 jam lebih! Dia tau saya hanya ingin didengar dan sekali2 dikomentari. Setelah itu, lega deh… Nggak sedih lagi, nggak kesepian lagi. Gimana bisa kesepian, ada Klemens yang siap jadi telinga (buat mendengar) dan bantal (buat jadi sasaran pukulan2 “empuk” saya) 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Ketika lulus kuliah dan bekerja? Kesepian nggak? Hmm… sekali2 iya. Tapi jarang sekali terjadi. Kenapa? Karena saya menjadi semakin dekat dengan orangtua, dengan kakak2, dengan adik2. Karena teman saya banyak yang berubah menjadi teman dekat. Karena ada kekasih yang menyayangi saya. Dan yang terutama, karena rasanya saya semakin mengetahui secara jelas apa tujuan saya hidup.

Pertanyaan sesungguhnya yang saya rasa orang sering ajukan adalah, kenapa saya kesepian? Bagaimana cara mengenyahkan rasa kesepian ini? Apakah dengan punya pekerjaan bagus, karir oke, mobil idaman, uang banyak, saya tidak akan kesepian lagi? Apakah memiliki teman/pacar/suami/istri/anak bisa menjamin saya tidak akan kesepian lagi? Dengan semangat untuk mencari tau jawaban atas pertanyaan2 diataslah saya pergi retreat.

Dapat nggak jawabannya?

Senangnya, dapat!

Saya mulai bisa menghubung2kan loneliness dengan penyebabnya, dan solusinya. Indahnya retreat ini buat saya justru bukan karena pembahasan yang panjang ketika session2 dari pembicara, tapi dari waktu yang diberikan buat saya untuk merenung. Saya rasa setiap orang tau jawabannya. Kita mungkin hanya perlu sedikit waktu untuk merenungkannya, benar2, apa yang membuat kita merasa kesepian.

Okeh, dengan semangat berbagi (walaupun mungkin sudah banyak orang yang tau ttg apa yang akan saya tuliskan di bawah ini), inilah rangkuman dari apa yang saya dapat dari mengikuti retreat GII.

1. Kesepian itu bukan dosa.

2. Tapi kesepian itu muncul pertama sekali ketika manusia masuk ke dalam dosa. Ketika dia berdosa, dia putus hubungan dengan Tuhan, dia juga putus hubungan dengan rohnya sendiri! Maka itu muncullah rasa kesendirian.

3. Kesepian yang sifatnya continuous bisa timbul karena low self esteem, bisa karena penolakan dari lingkungan sekitar, bisa karena denial atau penyangkalan .

4. Kesepian yang sifatnya temporary bisa timbul karena merasa sedang dalam masalah, kehilangan pegangan, kehilangan orang yang biasanya mendampingi, kehilangan sesuatu yang biasanya jadi motivasi, perasaan bahwa lingkungan sekitarnya akan berubah.

Saya rasa kesepian yang paling sering orang alami sekarang ini masih yang mengarah ke temporary, belum yang constantly or continuous. Kemungkinan besar, penyebab temporary loneliness yang paling sering adalah karena kehilangan orang yang biasanya mendampingi. Sementara untuk membahas secara detil penyebab constant or continuous loneliness, saya rasa saya belum mempunyai pengetahuan psikologi yang memenuhi syarat.

Tapi tetap, untuk kedua jenis kesepian tersebut, hal yang terpenting adalah menemukan jalan atau solusinya. Menurut saya, solusi kesepian yang paling utama adalah Menemukan Tujuan Hidupmu. Atau mengetahui secara jelas tentang hal2 di bawah ini:

Visimu apa?

Misimu apa?

Tujuan jangka pendekmu apa?

Langkah2 apa yang harus kau lakukan agar tujuanmu tercapai?

Bagaimana caranya memenuhi panggilan hidupmu?

Ketika saya kesepian, saya hanya harus mengingat kembali tujuan hidup saya. Saya yakin, ada atau tidak ada materi atau orang yang Tuhan berikan untuk mendampingi saya dalam hidup ini, saya tidak akan kesepian kalau wajah saya selalu dihadapkan ke wajahNya.

Jadi, ketika kau mengetahui tujuan hidupmu, kesepian itu menjadi tinggallah pilihan. Kau bisa memilih untuk merasa lengkap dan berpengharapan setiap saat, atau merasa sedih dan sendirian. Pilihlah.

Advertisements