Sekitar 2 minggu lalu seorang teman meneleponku. Temanku ini sudah kukenal sejak SD, tapi baru di kelas 2 SMP kami kenal baik dan menjadi dekat. Kelas 2 SMP itu berarti 12 tahun yang lalu. Aku bahkan baru menyadari, ternyata 12 tahun sudah kami bersama2 dan jadi sahabat.
Waktu dia meneleponku 2 minggu yang lalu, aku kaget mendengar kata-katanya. Dia bernostalgia sebentar, mengingat waktu2 berkesan yang kami sama2 lewati. Dia juga menyinggung beberapa tentang hal2 yang udah kulakukan untuknya, peranku dalam beberapa peristiwa penting dalam hidupnya. Waktu kami lulus SMP, waktu diterima di SMU yang sama, waktu menghadapi UMPTN, waktu dia jatuh sakit dan diopname, waktu mamanya meninggal, waktu dia akhirnya wisuda. Beberapa peristiwa bahkan hampir terhapus dari memoriku.
Di akhir pembicaraan itu dia mengucapkan terimakasih padaku. “Makasih buat semua yang udah kau lakukan untukku ya, Neng.” Kenyataannya, itulah kata2 paling tulus yang pernah diucapkan seseorang padaku. Sejujurnya, belakangan ini aku merasa kami jauh. Kami gak pernah lagi saling bercanda, saling curhat, cubit2an, cela-celaan, ato bahkan sekedar menggosip pun gak pernah. Tapi mendengar kata2nya, aku sadar. Walaupun kami sekarang jauh, walaupun tidak pernah ketemu lagi, tapi hati kami tetap dekat. Karena bagaimanapun dan sampai kapan pun, dia adalah teman baikku.
Teman yang sebenarnya adalah teman yang ada ketika kau susah. Teman yang mengulurkan tangannya waktu kau jatuh. Teman yang selalu bersedia mendengarkan walaupun pada saat itu dia sendiri lagi ingin didengar. Teman yang tanpa syarat menyayangimu walaupun malu untuk mengatakannya. Teman yang memberi tanpa pernah mengingatnya. Kedengarannya memang klise, tapi aku mengalaminya. Seperti itulah teman yang akan kau ingat selamanya.
Aku bersyukur untuk persahabatan yang selalu mengelilingiku. Mungkin aku memang tidak punya terlalu banyak teman. Tapi aku tau, teman2ku yang ada sekarang adalah teman2 yang akan selalu aku ingat.
October 15th, 2006
Wednesday, March 26, 2008 at 9:59 am
Teman itu harta dari Tuhan yang nilainya luar biasa ya….they make us alive!
Wednesday, March 26, 2008 at 12:33 pm
Setuju banget!
Teman & Keluarga, most precious gift from Heaven.
Wednesday, March 26, 2008 at 12:42 pm
Hehe… aku tau… aku tau siapa teman tersayang itu. Aku jg tau apa yg udah kau berikan utk nya. Suatu hari saat kita naik kapal laut, dirimu memberikan dia gelang kulit. Simbolnya persahabatan banget khaaan? Tp yg lebih mengharukan, dia nungguinmu dari jam 3 sore sampe jam 10 malam di pelabuhan spy kau jgn pulang sendirian. Padahal besok paginya dia ada ujian!!! Wow!!! How lucky u r to have such a sweet friendship like this.
Thursday, March 27, 2008 at 10:40 pm
“Teman yang selalu bersedia mendengarkan walaupun pada saat itu dia sendiri lagi ingin didengar.” –> totally agree. I experienced this a lot to whom I care deeply..
Nambahin..
A good friend also can “sincerely” happy with us when we’re happy even though she/he may not have the things that make us happy..
Anyway, berbahagialah tmnmu yg kw ceritakan di cerita di atas neng:-) bagi yang merasa, kasih komentar dong.. hehehe
Sunday, March 30, 2008 at 10:09 pm
Cari teman yg baik itu emg ga mudah. Bersyukurlah saat kita dapat yg sayang & tulus care sama kita..
Tuesday, April 1, 2008 at 5:40 pm
Waaaah ternyata dia ga merasa nov. Buktinya blom ada tanggapannya sampe sekarang hehe… :p
Gossip Mode: ON
Thursday, April 10, 2008 at 12:34 pm
Wallah..si Uneng ini. Jadi kikuk aku kau bikin. Aku bukan tipe orang yang biasa menerima (sejenis)pujian… Tapi baca ceritamu itu, aku kaget juga. Pas aku nelpon itu, suasana hatiku lagi enak banget. Aku baru renang di kampus IKIP, jalan menikmati sore. Saat itu juga kuingat moment pas UMPTN di loksai yang sama dimana kau dan Harlen nungguin kami ujian.
Aku nelpon kau bukan untuk bikin hatimu senang atau lainnya, tapi karena saat itu kupikir aku perlu melakukannya. Aku dididik dalam lingkungan yang tidak begitu memusingkan arti “terima kasih” apalagi “maaf”; dan aku ga menyadari besarnya efek kedua ungkapan itu kalo dilakukan dengan tulus. Tapi, makasihlah ternyata itu berbekas juga buatmu.
Jadi, omongan yang kusampaikan lewat telpon itu wasn’t a big thing. Tapi ternyata efeknya sama2 kita rasakan ya, Neng. Karena setelah aku tutup telpon, detik berikutnya aku lebih bahagia.